Alasan-Alasan Utama Mengapa Hutang Anda Sulit Dilunasi, Sadarilah Sebelum Terlambat

By | Jun 25, 2018

Di era modernisasi seperti sekarang ini, berbagai tuntutan hidup dapat menyerang dari segala aspek kehidupan. Entah itu dari segi ekonomi finansial, kesehatan fisik mental, emosional serta spiritual. Sejatinya, semua orang tentu mendambakan kehidupan yang bahagia, sukses, sehat, tentram dan sejahtera. Semua orang senantiasa mendambakan hal ini pada umumnya. Adakalanya, banyak dari kita yang berusaha memenuhi kebutuhan finansialnya agar dapat hidup layak dan sejahtera.

Namun tak jarang juga, sebagai akibatnya, malah banyak yang terjerat utang. Sebenarnya, berutang demi memenuhi kebutuhan produktif dan konsumtif adalah sah-sah saja. Beberapa orang memutuskan berutang produktif karena butuh modal lebih untuk merintis usaha barunya. Sementatra yang lainnya membutuhkan dana lebih untuk memenuhi kebutuhan konsumtif seperti barang-barang elektronik yang diperlukan untuk menunjang, memfasilitasi dan menyaranai kegiatannya sehari-hari.

Yang kemudian menjadi masalah baru adalah ketika seseorang tak sanggup melunasi utangnya karena alasan-alasan tertentu. Di satu sisi, mungkin masalah finansial Anda terpenuhi dengan solusi meminjam sejumlah dana segar. Namun sebagai imbasnya, bisa jadi ketentraman hidup Anda jadi terusik akibat rencana anggaran keuangan yang kurang matang dalam pertimbangan.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah alasan-alasan utama yang perlu segera disadari, mengapa utang menjadi sulit dilunasi.

1. Tak punya cukup uang

Penyebab utama mengapa seseorang tak bisa melunasi utangnya tentu karena tak punya cukup uang. Dalam banyak kasus, orang tak mampu membayar utang karena pengeluaran mereka lebih besar daripada pendapatannya. Jangankan untuk membayar utang, mencukup kebutuhan sehari-hari saja bisa jadi sulit.

Itulah sebabnya sangat disarankan, hitung dan pertimbangkan rasio utang terlebih dahulu sebelum Anda memutuskan untuk berutang. Utang yang ideal dan sehat bagi keuangan Anda adalah utang yang besarannya tidak lebih dari 30 persen penghasilan Anda.

Selain itu, belajarlah untuk berhemat dan akan lebih baik lagi jika Anda berhasil menambah jumlah penghasilan Anda guna menuntaskan pembayaran utang Anda dengan segera. Dengan begitu, keuangan Anda bisa tetap terjaga dan hidup pun bisa kembali tentram.

2. Tidak berniat bayar utang

Persoalan utang-piutang memang sensitif. Ironisnya, banyak kisah dalam beberapa kasus di mana orang-orang kerap susah melunasi utang mereka. Ironisnya, penyebabnya adalah karena tidak memprioritaskan pelunasan utang tersebut. Setelah berhasil mendapat pinjaman dana, banyak kemudian yang melupakan dan tidak memprioritaskan pelunasannya dan berharap agar utangnya dilupakan saja oleh pihak peminjam—alias dianggap lunas.

Memang benar, sikap seseorang saat dia memerlukan toilet akan berbeda setelah dia berhasil menyelesaikan hajatnya. Jika sudah begini, Anda mungkin bisa mencoba soft approach dengan mendekati kerabat dekatnya untuk membantu musyarawah dan menyelesaikan utang pihak peminjam uang. Disini, penting adanya kesadaran untuk segera melakukan penyelesaian dengan cara baik-baik, mengingat melunasi utang merupakan sebuah kewajiban.

3. Utang yang menumpuk

Bagaimanapun, gaya hidup yang paling disarankan adalah gaya hidup sehat yang sederhana dan bersahaja. Ingatlah bahwa tujuan keuangan Anda adalah menjadi kaya dan sejahtera, bukan hanya sekadar tampak kaya dan kelihatan hidup penuh glamour yang serba mewah—namun dibaliknya malah punya banyak utang.

Sudah sangat banyak contoh kasusnya di mana orang-orang terjebak dalam utang jumlah besar yang menumpuk hanya karena kurangnya pengendalian diri dan gaya hidup yang serba mewah. Sedangkan padahal, pendapatan pun tidak sebesar itu. Akhirnya terjadilah lebih besar pasak daripada tiang yang kemudian berujung pada gali lubang tutup lubang.

Bahkan tak jarang, mulai dari selebritas hingga elite politik pun bisa saja terjerat utang yang menumpuk kemudian menjadi bangkrut. Dengan begitu, Anda akan ingin terhindar dari hal seperti ini. Caranya, jangan memulai utang baru sebelum melunasi utang yang sekarang. Akan lebih baik lagi jika Anda menghindari utang. Sebagai alternatif lainnya, berhemat dan menabunglah. Atau temukan penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan Anda.

4. Merasa utang bukan beban

Masih berhubungan dengan prioritas hidup serta kesadaran akan kewajiban utang, ada banyak orang diluar sana yang utangnya bertumpuk. Namun alih-alih berusaha untuk segera melunasinya, yang bersangkutan malah bersikap seolah tanpa beban dan asyik membelanjakan uangnya untuk kebutuhan yang sesungguhnya tidak perlu.

Tapi tentu saja cara seperti ini tak akan bisa mereka terapkan jika berutang kepada pihak bank, koperasi atau bahakn rentenir. Pikirkan dampak dan konsekuensinya. Aset Anda bisa jadi disita, sedangkan bunga utang kian membengkak dan tentunya citra, integritas dan kredibilitas dari nama baik serta diri Anda sendirilah yang menjadi taruhannya.

5. Utang lebih besar dari pendapatan

Berutang sesungguhnya lumrah untuk dilakukan. Terlepas dari apakah utang tersebut sifatnya produktif atau konsumtif sekalipun. Selama tidak merugikan siapapun dan sanggup membayarnya, siapapun boleh berutang. Dengan catatan, rasio utang Anda tidak boleh lebih dari 30 persen penghasilan.

Berutanglah sesuai kapasitas dan kemampuan bayar Anda. Pasalnya, jika Anda bersiteguh berutang melebihi batas nominal tersebut, maka dikhawatirkan Anda tak akan bisa membayar cicilan karena uang yang ada juga dibutuhkan untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari.

Itulah sebabnya sangat disarankan untuk menambah penghasilan dan berhemat, selain menabung. Memang terdengar kuno, tapi itulah yang paling efektif dan efisien. Karena utang yang lebih besar dari pendapatan hanya akan membuat Anda kelimpungan dan susah untuk melunasinya. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.