Fire Emergency Response Team PT RAPP Terus Berjuang Melawan Kebakaran Lahan

By | May 24, 2018

Source: APRIL Asia

PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP) selalu berjuang keras melawan potensi kebakaran lahan dan hutan. Mereka sampai membentuk Fire Emergency Response Team (FERT) untuk melaksanakannya.

FERT merupakan regu pemadam kebakaran yang dibentuk dalam menangani kebakaran lahan di area konsesi milik PT RAPP. Perlu diketahui RAPP Riau adalah unit operasional APRIL Group. Induk perusahaannya ini dikenal sebagai salah satu produsen pulp and paper terkemuka.

Saat ini, RAPP mengelola produksi sekaligus perkebunan sebagai suplai bahan baku pulp and paper. Akibatnya lahan konsesi seluas satu juta hektare milik APRIL mereka rawat. Di dalamnya termasuk perkebunan akasia seluas 476 ribu hektare yang menjadi sumber fiber perusahaan.

Selain menjalankan proses produksi pulp and paper, PT RAPP juga diberi mandat untuk menanggulangi kemungkinan terjadinya kebakaran lahan dan hutan di area konsensi, oleh karena itu, FERT dibentuk.

Sesuai namanya, FERT yang akan melakukan respons dengan cepat ketika kebakaran terjadi. Di dalamnya terdiri dari 82 tim yang disebar di sejumlah area konsesi Riau Andalan Pulp & Paper di Pelalawan, Riau. Dari 82 tim tersebut terdapat regu inti yang berjumlah 1.080 orang.

PT RAPP tidak hanya menugaskan FERT untuk merespons bahaya kebakaran. Mereka juga melengkapinya dengan dukungan sarana dan prasarana lengkap. Sebelumnya anggota tim FERT sudah diberi pelatihan khusus tentang pemadaman api. Hal itu membuat kemampuannya dalam menjinakkan si jago merah tidak perlu diragukan lagi.

Bersamaan dengan itu, PT RAPP membekali tim FERT dengan peralatan memadai. Teknologi seperti hotspot monitoring melalui satelit maupun drone diberikan untuk memudahkan pekerjaan mereka.

Keberadaan FERT sangat penting dalam manajemen kebakaran lahan dan hutan. Meski berstatus sebagai tim respons cepat, tugas utama mereka tidak sekadar menjinakkan kebakaran. Lebih dari itu, FERT juga bertugas untuk mencegah supaya tidak ada api yang berkobar liar di lahan dan hutan.

Untuk melaksanakannya, FERT melakukan serangkaian upaya. Pertama adalah analisis ancaman kebakaran. Mendasarkan terhadap pengalaman sekian lama, mereka mampu memetakan periode rawan di area yang dijaganya. Selama ini, mereka mengidentifikasi ada dua masa yang berpotensi besar menghadirkan titik api.

“Hasil analisis kami di Indonesia menemukan bahwa cenderung ada dua periode musim kemarau. Tahun ini periode pertama diprediksi hadir pada bukan Februari hingga Maret. Tapi, periode keduanya baru ada ketika masuk pada bulan Juli-Agustus,” ujar Asisten Kepala Fire Operational, Sulaiman, di Detik.com.

Ketika masa-masa rawan itu, kesiapsiagaan FERT semakin ditingkatkan. Patroli pengawasan kian intensif dilakukan. Begitu pula dengan upaya koordinasi dengan pihak lain seperti instansi pemerintah maupun masyarakat. Hal itu dilakukan agar tidak ada kebakaran yang benar-benar terjadi.

Kerja keras dilakukan oleh FERT. Maklum saja, area konsesi PT RAPP sudah luas. Namun, oleh perusahaan, mereka juga ditugasi untuk menjaga area seluas 3 kilometer yang berada di sekelilingnya. Ini berarti mereka ikut mengawasi lahan milik masyarakat.

Namun, demi upaya menjaga kelestarian alam, FERT rela melakukannya. Mereka benar-benar tidak mau kebakaran terjadi karena akan muncul banyak sekali kerugian.

Belajar dari kejadian kebakaran hebat di berbagai belahan Indonesia pada 2015, kerugian yang ditimbulkan sangat besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana menaksir kerugiannya mencapai Rp221 triliun. Jumlah itu bisa semakin membengkak karena kerugian di sektor lain seperti kesehatan, pendidikan, plasma nutfah, emisi karbon, dan lainnya tidak dimasukkan.

PEMETAAN DAERAH RAWAN

Source: APRIL Asia

Setiap tahun ancaman kebakaran lahan dan hutan selalu mengintai. Hal itu membuat FERT selalu siaga ketika masa-masa rawan muncul. Sebagai persiapan, mereka melakukan pemetaan kawasan.

FERT membuat sebuah sistem yang dinamai sebagai Fire Assessment. Ini menjadi cara dan panduan bagi tim respons cepat kebakaran RAPP tersebut untuk mengetahui daerah yang rawan.

 

Fire Assessment dibentuk dengan pengalaman panjang PT RAPP dalam berjuang menanggulangi kebakaran. Sistem ini akhirnya digunakan sebagai landasan untuk membuat program kerja FERT selama setahun. Acuannya ialah data berdasarkan histori, analisis, serta prediksi.

Bentuk nyata dari Fire Assessment yang dilakukan ialah visualisasi warna yang mengindikasikan kebakaran. Seperti dilaporkan oleh Detik.com, Koordinator Fire Development and Prevention FERT, Widi Santoso, mengungkap pihaknya membagi tingkat risiko kebakaran dalam beberapa tahap. Tingkatan tersebut akhirnya dinyatakan dalam warna yang mengindikasikan persentase kebakaran.

Warna biru merupakan tingkatan terendah. Ini digunakan untuk memvisualisasikan kebakaran pada tahap 0 hingga 40%. Level berikutnya digambarkan dengan warna hijau. Jika warna hijau muncul berarti kebakaran sudah mencapai tahap 41% hingga 70%. Ini dikategorikan sebagai level menengah.

Sedangkan level kebakaran yang tinggi divisualisasikan dengan warna kuning. Warna ini akan muncul ketika kebakaran menembus tingkat 70%-84%. Namun, yang paling rawan ialah warna merah. Ini akan muncul ketika kebakaran hebat yang terjadi mencapai 81% sampai 100%. Level ini juga dikategorikan sebagai kebakaran esktrem.

Sistem seperti ini memang memudahkan FERT untuk mengawasi lahan konsesi Riau Andalan Pulp & Paper. Namun, mereka tetap memerhatikan perkembangan dan situasi terakhir. Sebab, hal itu juga menjadi acuan tingkat potensi kebakaran bisa terjadi.

Terkait hal tersebut, Widi memaparkan setidaknya ada empat hal yang menjadi parameter pemicu kebakaran. Hal-hal tersebut harus terus diperhatikan dari waktu ke waktu.

“Pertama adalah jumlah hari tidak hujan, kemudian tingkat kelembapan relatif, kondisi bahan bakar (material yang mudah terbakar seperti ranting, rumput kering dan sebagainya, Red.), dan juga curah hujan dalam 15 hari terakhir,” ujar Widi di Detik.com.

Kalau misalnya sudah lama tidak hujan disertai tingkat kelembapan relatif yang rendah, serta dalam 15 hari terakhir tidak pernah ada hujan, FERT pasti akan meningkatkan kewaspadaan. Terlebih lagi jika di lapangan ditemukan dahan dan ranting yang kering. Dalam kondisi seperti inilah potensi kebakaran sangat tinggi.

Melihat sepak terjangnya, terlihat jelas betapa penting arti FERT. Mereka melakukan berbagai upaya untuk mencegah hingga menanggulangi kebakaran yang mungkin terjadi.

Pertama FERT terus-menerus mengawasi area konsesi RAPP Riau dengan teknologi dan sistem khusus seperti Fire Assesment. Selain menjalankan pengawasan, mereka juga menjalin koordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan kebakaran tingkat terjadi.

Lalu, begitu ada kebakaran, sesuai namanya, FERT akan merespons secepat mungkin. Timnya akan segera menuju lokasi untuk memadamkannya atau mencegah supaya api tidak meluas.

 

PT RAPP memberi dukungan maksimal dengan cara penyediaan alat seperti perahu amfibi maupun helikopter untuk melakukan water bombing. Itu untuk melengkapi berbagai peralatan pemadaman api yang telah disediakan.

Bisa dibayangkan jika RAPP tidak membentuk FERT. Lahan dan hutan di kawasan konsesinya pasti rawan dilalap si jago merah. Kala itu terjadi, kerusakannya pasti sangat besar.

Namun, beruntung PT RAPP memiliki FERT. Berkat mereka, lahan dan hutan di sekitar area perusahaan akan terus diawasi. Hal ini bisa meminimalkan potensi kebakaran terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.